DEBAT PELAJAR ANTARABANGSA 2010 Untuk Jenjang SMP dan SMA Syarat dan Ketentuan: Biaya RM 250 peserta lomba/orang Biaya RM 300 guru pendamping/orng Jumlah anggota tim pergroup 4 orang (3 sebagai anggota inti, 1 cadangan) Materi...
Administrator comments 25 Jun 2010 Hits:111 Latest
Menulis untuk Diri, Menulis untuk Berbagi
Yessy Yanita Sari,MPd
Green Vision Real Action
Oleh-oleh dari Asia-Europe Classroom Conference
@Sonderborg,Denmark
Catatan perjalananku menelusuri beberapa kota dan negara Eropa dan berujung di sebuah kastil di kota kecil Sonderborg sebagai tempatku dan setidaknya seratus insan pendidikan berkumpul untuk berdialog mengenai isu dunia dan pendidikan. Aku mencoba mengawali catatan kecil ini dengan sebuah kegiatan sederhana namun bermakna, paling tidak bagi anak-anakku, sebelum keberangkatanku ke konferensi tersebut.
“Bunda, bawa kaleng bekas susu aku ya, trus bawa bibit tanaman kecil juga , hari ini aku mau nanem bun di sekolah”. kata Lubna, pagi saat bersiap berangkat ke sekolah. Dalam perjalanan menuju sekolah abang Zanki, bercerita “Bun, daun-daun kering kan bisa buat pupuk,namanya kompos, biar tanaman jadi subur”. Pekan ini memang program berkala Special Week di TKIT Little Darbi, tempat dua anakku bersekolah sekaligus juga sekolah di mana aku bekerja. Green-Art Week, demikian tema pekan ini. Seluruh kegiatan terkait dengan berbagai aktivitas yang dimaksudkan untuk memperkenalkan siswa dengan pengenalan lingkungan melalui kegiatan seni. Mulai dari seni drama yang berbentuk happening art seperti memelihara tanaman, mencegah banjir dan lain-lain. Membuat berbagai jenis media pembelajaran sampai karya seni dengan memanfaatkan barang-barang yang sudah tak terpakai pun diajarkan. Walaupun sebenarnya kebiasaan memanfaatkan barang bekas dalam proses pembelajaran selama ini, sudah rutin para guru lakukan bersama siswa. Tapi sesuai namanya: Special Week, memang ada yang special dari pekan-pekan belajar pada umumnya, dan yang special kali banyak sekali diantaranya yang dilakukan oleh TK A dan TK B . Di hari pertama kegiatan diawali dengan happening art yang di gelar di pelataran depan sekolah menyambut kedatangan siswa. Bunda-bunda memakai kostum dan berpantomim.Ada yang berperan sebagai pohon, penanam dan juga perusak. Pohon itu berekspresi sedih ketika perusak itu mencabuti tanaman, dilanjuti dengan drama bunda yang bertemakan "Pahlawan Lingkungan" kisah 2 orang anak yang berhasil melindungi hutan dari para penebang. Selanjutnya untuk teman-teman di TK B berkeliling ke rumah-rumah sekitar sekolah kemudian mengambil sampah yang ada di rumah-rumah tersebut dan dipilah antara sampah Organik dan Anorganik. Siswa-siswi TK A, mengambil dan memilah sampah Organik dan Anorganik. Adik-adik playgroup pun tak ketinggalan memilah sampah kulit buah dan kemasan makanan. Setelah itu semua menghias kaleng susu hingga menjadi indah dan di gunakan untuk pot.Di hari kedua didatangkan narasumber untuk mengajarkan dan mempraktekan pembuatan kompos. Lalu siswa2 dan guru langsung beraksi dengan menanam tanaman untuk setiap pagi disiram sambil menunggu masa panen. Hari ketiga bunda melakukan pertunjukan musik menggunakan media barang bekas. Semua teman-teman kecil bernyanyi dan mencoba menggunakan alat musik dari barang bekas tersebut. Kemudian aksi dilanjutkan dengan membuat poster bertema green art. Di hari keempat teman-teman kecil mewarnai topeng dengan pewarna alami yang akan digunakan dalam pertunjukan operet di aula sekolah. Hari terakhir, Bunda dan ananda berparade keliling sekolah menggunakan kostum yang terbuat dari barang bekas sambil membawa poster yang mengajak orang sekitar menjaga lingkungan
Dua pekan setelah Green Art Week anak-anakku berlalu, aku berangkat menuju Sonderborg. Sebuah kota di tepi pantai namun berhawa gunung nan sejuk di negara Denmark. Aku menjadi salah satu peserta dari tiga pendidik wakil Indonesia yang berkesempatan untuk mengikuti Kongres Guru Internasional yang ke-8 di sana. Sebuah acara yang mempertemukan para guru dan praktisi dunia pendidikan dari negara-negara yang berada di Asia dan Eropa. Asia Europe Foundation (ASEF) merupakan pemrakarsa kegiatan ini. ASEF berdiri sejak tahun 1997. Sebuah lembaga yang dibentuk untuk membangun hubungan komunikasi dan kerjasama antara masyarakat Asia dan Eropa, melalui pendidikan, budaya dan pertukaran individu. Pertukaran individu ini di antaranya di fasilitasi dalam bentuk konferensi, studi banding, worksop, seminar dan melalui teknologi dunia maya atau hubungan secara virtual. Seluruh kegiatan tersebut terangkum dalam Asia Europe Classroom Conference. Sejauh ini ASEF telah mengorganisir lebih dari 350 projek dan menghubungkan lebih dari 15.000 orang dari Asia Eropa. Kegiatan ini adalah satu dari berbagai kegiatan yang ada di organisasi ini yang berawal terbentuk dari forum Asia-Europe Meeting (ASEM).Yang menarik dari konferensi kali ini adalah temanya yaitu “The Impact of Climate Change and Sustainable Development within The School Community in Asia and Europe”, tema yang sejalan dengan tema pembelajaran anak-anakku dua pekan lalu. Selama 5 hari kongres, kami mengikuti workshop mengenai dampak perubahan iklim dan pembangunan berkelanjutan dalam komunitas sekolah di Asia dan Eropa. Selain itu, kami juga melakukan studi banding ke sekolah-sekolah dan kunjungan edukasi ke Universe Park, sebuah taman penelitian lingkungan hidup. Dan akhirnya, merupakan budaya dari kegiatan kongres Asef ini adalah, diharapkannya muncul berbagai project yang sesuai tema dari para peserta. Dari 70 peserta yang berasal dari 30 negara, terdapat 31 project. Aku sendiri menjadi salah satu Co project dengan judul project Green School.
Green School adalah sebuah mimpi. Mimpi yang akan menjadi salah satu solusi alternatif untuk menyelesaikan masalah terbesar di dunia pada saat ini, yaitu: Global Warming. Sebagai guru, terkadang kita merasa ini bukan bagian pekerjaan kita atau mungkin merasa bukanlah kapasitas kita untuk mengurusi masalah tersebut. Namun, sesungguhnya seorang guru memiliki kekuatan dan mampu untuk berkontribusi dalam menyelamatkan dunia. Mengapa? Sumber utama masalah ini adalah manusia. Manusia yang telah bertindak tidak adil pada alam. Sekolah tempat guru mengabdi adalah sebuah tempat di mana karekter seorang anak manusia dibentuk. Karakter itulah yang akan membangun kebiasaan baik mereka sehari-hari. Dengan menyajikan pembelajaran yang berwawasan lingkungan dan mendisain kurikulum yang bertemakan lingkungan ataupun aktivitas-aktivitas sejenis, secara terprogram, siswa akan mulai mengenal, memahami dan peduli yang akhirnya bermuara pada terbentuknya karakter peduli lingkungan yang secara spontan akan teraplikasi dalam kehidupan sehari-hari. Membuang sampah pada tempatnya, mematikan lampu jika sudah tidak dibutuhkan, menggunakan air secukupnya adalah contoh kecil perilaku ramah lingkungan yang sudah seharusnya mulai dibiasakan. Hingga pada tingkat lebih tinggi, bagaimana mereka mampu berpikir kreatif untuk memanfaatkan barang-barang tak terpakai menjadi benda-benda berharga atau pun membuat teknologi yang menawarkan inovasi penanganan lingkungan yang bukan saja bermanfaat namun bernilai ekonomis. Dari sinilah, diharapkan lahir manusia-manusia penyelamat lingkungan. Kekuatan lembaga pendidikan pun bukan hanya sekedar menyentuh para siswa, namun seluruh anggota sekolah, pemilik,guru, staf, orang tua, kakak, adik dari siwa, bahakan lingkungan sekitar sedikit banyak akan merasakan dampaknya.
Departemen pendidikan Nasional Indonesia pun sudah semakin peduli dengan masalah “dunia” ini. Bekerja sama dengan Badan Lingkungan Hidup, di kenalah predikat sekolah Adi Wiyata. Predikat ini akan diberikan kepada sekolah-sekolah yang membuktikan turut serta dalam menjaga lingkungan. Hal ini dapat dilihat dari visi misi sekolah, kurikulum, sarana dan prasarana serta program pendukung lainnya yang mengarahkan tercapainya sekolah yang berwawasan lingkungan. Semakin nyatalah bahwa dunia pendidikan sangat berarti keikutsertaanya dalam menyelamatkan bumi ini.
Apalagi, sebagai guru muslim, tentu kesadaran terhadap pemeliharaan lingkungan hidup ini tak perlu diperdebatkan lagi. Jika seluruh makhluk tak sanggup menerima amanah ini dan manusia sebagai satu-satunya makhluk yang menyanggupinya, saatnyalah kita membuktikan dan bertanggung jawab untuk melestarikan lingkungan. Kedudukan manusia sebagai Kalifah di bumi ini seperti disinggung dalam QS Al-Baqarah: 30 (“Dan (ingatlah) ketika Robbmu berfirman kepada para malaikat, “Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.”…). Khalifah dapat dimaknai sebagai: “seseorang yang diberi kedudukan oleh Allah untuk mengelola suatu wilayah, ia memiliki kewajiban untuk menciptakan suatu masyarakat yang beribadah secara benar dengan Robbnya, mampu menciptakan kehidupan masyarakat madani dan harmonis, di mana terpeliharanya agama, akal dan budaya secara tawazun”.
Di ayat 1-12 Surat Ar-Rahman, Alloh SWT pun menggambarkan betapa indah dan menakjubkannya alam semesta ini diciptakan dan menjadikan manusia sebagai pemikul amanah luar biasa ini.
Dalam dua bukunya “Man and Nature (1990)” dan “Religion and the Environmental Crisis (1993)”, Seorang dosen studi Islam dari Goerge Washington University Sayyed Hossein Nasr mencoba menafsirkannya sebagai berikut:
“……Man therefore occupies a particular position in this world. He is at the axis and centre of the cosmic milieu at once the master and custodian of nature. By being taught the names of all things he gains domination over them, but he is given this power only because he is the vicegerent (khalifah.) of God on earth and the instrument of His Will. Man is given the right to dominate over nature only by virtue of his theomorphic make up, not as a rebel against heaven.”
Sebagai khalifah sekaligus wakil Allah memelihara bumi menjadi mutlak adanya. Masih banyak lagi Firman Alloh SWT yang berkenaan dengan isu Global Warming, begitu pula dengan hadits Rosululloh SAW.
Green Vision Real Action, mimpi kita untuk dapat menciptakan dunia yang lebih baik tentu takkan terwujud tanpa kerja nyata. Ibda’ bi nafsik..kita mulai dari diri sendiri..kita mulai dari hal yang mudah dan mungkin bagi kita.. Yuk..bergabung bersama http://greenschool.web.id Teman-teman dapat saling bertukar informasi, saling memtivasi, memberi inspirasi dan menjadi lokomotif Green School di sekolah masing-masing…ajak para siswa, khususnya yang siswa kelas 5 hingga 12, selain menambah wawasan mereka dan kemampuan berbahasa Inggrisnya, tentu pembangunan green habit mereka merupakan sasaran utama. Sampai saat ini sudah bergabung lebih dari 100 member dari sekitar 9 negara di Green School Project ini, yang dipantau secara langsung oleh Asia Europe Foundation untuk di presentasikan akhir tahun ini di India (Kongres ke-9), biidznillah. Kami tunggu kontribusi teman-teman semua...